Aplikasi Geotextile Pada Dinding Penahan Tanah Untuk Mencegah Longsor.


Uncategorized / Friday, March 20th, 2020

Wilayah di Indonesia ini banyak diliputi lereng, bukit, dan pegunungan bahkan tidak jarang untuk membangun jalan tol kita harus membelah bukit atau gunung namun permasalahannya bagaimana agar konstruksi kita dapat menahan longsor dan awet untuk jangka panjang.

Solusinya adalah dengan membanguna dinding penahan kantilever (Retaining Wall). Untuk membangun dinding penahan dibutuhkan perhitungan yang tepat karena tingkat keamanan lereng dipengaruhi beberapa hal berikut faktor kemiringan dan beban yang bekerja diatasnya. Kondisi lereng dengan beban yang besar dan kemiringan yang curam dapat menyebabkan terjadinya kelongsoran.

Oleh karena itu harus didahului dengan melakukan survey lokasi dan melakukan Analisis stabilitas pada permukaan tanah yang miring di lokasi pembangunan. Pada umumnya, analisis

stabilitas ini dilakukan untuk mengecek keamanan dari lereng alam, lereng galian, dan lereng urugan tanah.

Penggunaan Geotextile Pada Dinding Penahan Tanah

Geotextile adalah lembaran kain sintetik yang banyak digunakan pada perkuatan tanah. Geotextile sendiri memiliki beragam fungsi yaitu sebagai separator, filtrasi, dan stabilisasi. Dalam hal ini kita menggunakan geotextile untuk stabilisasi tanah dimana penggunaan material ini dapat meningkatkan sifat mekanis massa tanah, meningkatkan faktor keamanan lereng dan menstabilkan lereng dengan kemiringan curam.

Pada prakteknya penggunaan geotekstil ini digabungkan dengan tanah yang disusun secara horizontal sehingga menghasilkan kekuatan tarik dan tekan yang tinggi. Penggabungan tanah dan geotextile ini sering disebut dengan istilah composite geotextile.

Dengan begini geotekstil berperan sebagai bagian tahanan tarik gesekan (adhesi), saling mengikat (interlocking) atau pengurungan (confinement)) yang digabungkan ke tanah/timbunan dan menjaga stabilitas massa tanah.

Tahapan konstruksi dinding penahan tanah dengan elemen penutup muka selubung geotekstil dijelaskan sebagai berikut :

  1. Tempatkan cetakan kayu yang umum disebut “lift height” dengan ketinggian yang lebih tinggi daripada tebal satu lapis tanah pada permukaan tanah. Atau dapat pula dipasang di atas lapisan pertama. Cetakan ini terbuat dari rangkaian besi berbentuk L dengan papan kayu menerus di sepanjang permukaan dinding. 
  2. Buka gulungan geotekstil dan tempatkan di bagian atas cetakan, kira-kira 1,0 m lebih panjang sehingga menggantung. Jika sangat lebar, gulungan geotekstil dapat dibuka sejajar dengan dinding. Dengan cara ini arah melintang mesin akan berada pada arah tekanan maksimumnya. Ini akan tergantung kepada panjang desain dan kekuatan geotekstil yang dibutuhkan, yang akan dibahas selanjutnya. Kekuatan jahitan merupakan faktor yang menentukan. Sebagai alternatif, geotekstil dengan lebar penuh dapat dibuka tegak lurus dinding dan ujung-ujung gulungan yang saling bersentuhan dapat ditumpang tindihkan atau dijahit. Dengan demikian, arah mesih akan searah dengan arah tekanan maksimum.
  3. Hamparkan material timbunan di atas geotekstil setebal ½ – ¾ tinggi lapisan dan padatkan. Tebal lapisan tipikal adalah 200 – 400 m. Pemilihan material timbunan sangatlah penting. Jika materialnya kerikil berbutir, maka drainase akan mundah namun kerusakan geotekstil akibat pemasangan harus dipertimbangkan. Jika materialnya lempung atau lanau berbutir halus, drainase akan sulit dan tekanan hidrostatis harus dipertimbangkan. Pasir dinilai sebagai material terbaik untuk dinding penahan tanah yang diperkuat dengan geotekstil dan geogrid.
  4. Windrow dibuat berjarak 300 – 600 mm dari permukaan dinding dengan menggunakan road grader atau manual dengan tangan. Harus dijaga agar geotekstil di bawahnya tidak rusak.  Ujung geotekstil atau “tail” selanjutnya dilipat ke belakang di sepanjang cetakan kayu ke windrow.
  5. Selesaikan penimbunan kemudian dipadatkan sampai ketebalan rencana.
  6. Cetakan kayu selanjutnya dibuka, demikian halnya dengan rangka besi, kemudian dirakit kembali untuk dipasang pada lapisan berikutnya yang lebih tinggi. Perlu diketahui bahwa umumnya dibutuhkan scaffolding di depan dinding jika dinding lebih tinggi dari 1,5 atau 2,0 m.

Sumber Skripsi Septian Adi Saputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *